Sudah menjadi kebiasaan jika masyarakat menilai kepribadian seorang musisi lewat karya-karya yang dihasilkan. Misalnya saja, penyanyi yang sering membawakan lagu-lagu rock dipandang memiliki kepribadian yang garang, anti kemapanan bahkan siap untuk berkonfrontasi dengan siapa saja. Sementara yang membawakan lagu-lagu romantis, kerap dilihat sebagai pribadi yang lembut. Padahal stereotipe tersebut belum tentu benar. John Legend bisa menjadi contoh yang pas.
Penyanyi asal Amerika Serikat kelahiran 28 Desember 1978 ini memang terkenal dengan lagu-lagu soul yang romantis. Namun bukan berarti kepribadian pria bernama asli John Stephens ini kalah dari rocker yang garang. Apalagi jika yang diperdebatkan adalah masalah yang menyangkut pendidikan, kemiskinan dan kesejahteraan anak. John memang memiliki perhatian lebih pada masalah tersebut.
Bagi John, pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi sebagai jalan menuju kesejahteraan. Sesulit apapun, semua orang, terutama anak-anak harus mendapat pendidikan. Dan hal tersebut tidak hanya menjadi ajang ‘kehumasan’ belaka bagi seorang John Legend. Bahkan ia sendiri turun tangan untuk menggalang dana lewat program yang ia buat. Pada tahun 2007 ia memulai The Show Me Campaign, sebuah kampanye penggalangan dana untuk membantu mengentaskan kemiskinan di Ghana lewat pendidikan.
Perhatian John terhadap masalah pendidikan memang luar biasa. Padahal di masa kecilnya ia tidak menjalani pendidikan di sekolah dasar formal, melainkan lewat home schooling. Ketika memasuki usia 12 tahun barulah John mengenyam pendidikan di sekolah formal. Itu pun karena kedua orang tuanya bercerai, sehingga tak ada lagi yang fokus pada pendidikan John di rumah. Namun demikian, sejak kecil John memang terbilang cerdas dan berbakat dalam bidang seni musik. Di usia empat tahun ia sudah bermain piano dan tiga tahun kemudian ia sudah menggubah lagu bersama rekan-rekan paduan suara gereja.
Lulus dari sekolah menengah dengan nilai cemerlang, John ditawari beasiswa oleh beberapa perguruan tinggi terkenal di Amerika, namun ia memilih kuliah di University of Pennsylvania dengan mengambil program studi Bahasa Inggris. Semasa di bangku kuliah, bakatnya di bidang musik semakin terasah. Ia sempat menjadi ketua kelompok musik di kampusnya. Semasa di kampus pula John diperkenalkan pada penyanyi Lauryn Hill yang kemudian memintanya menjadi pengiring piano untuk album The Miseducation of Lauryn Hill.
Lulus dari kuliah, John bekerja sebagai konsultan manajemen untuk Boston Consulting Group. Namun bukan berarti ia lepas dari urusan musik. Di sela-sela kesibukan pekerjaan, John menyempatkan diri untuk membuat demo rekaman untuk ia sebar ke beberapa perusahaan rekaman. Pada tahun 2001, dewi keberuntungan mulai datang padanya. Ia diminta menjadi penyanyi latar untuk album Kanye West. Sejak itu berbagai tawaran lain mulai berdatangan. John tercatat pernah menjadi penyanyi latar untuk beberapa penyanyi seperti Alicia Keys, Jay-Z dan sebagainya.
Pada tahun 2004, setelah mengiringi beberapa musisi, John akhirnya meluncurkan album pribadinya. Diberi judul Get Lifted, album perdana ini langsung menarik hati penggemar musik Soul dan R&B. Dalam waktu seminggu albumnya terjual 116 ribu copy, dan dalam setahun albumnya terjual lebih dari tiga juta copy di seluruh dunia. Berkat albumnya itu, John meraih tiga Grammy Award di tahun 2005 setelah didaulat menjadi Best New Artist, Best Male dan Best R&B Album.
Tahun 2006, John meluncurkan album Once Again dengan hits andalan Save Room. Album in juga mendapat sambutan yang luar biasa. Garmmy Award pun kembali mampir ke pangkuannya dengan menyabet dua kategori, yaitu Best R&B Performance, Best Men R&B Vocal Performance.
Kesuksesan John terus bergulir. Pada tahun 2008, ia meluncurkan album Evolver yang mengejutkan banyak penggemar. Pasalnya, di album yang juga menampilkan awak Outkast Andre3000 ini, musik John berbeda dengan album sebelumnya. Di album terbaru ini musiknya lebih menghentak, tidak selembut dua album sebelumnya. “Saya memang sengaja membuat demikian. Saya ingin menegaskan bahwa saya ingin mencoba berbagai hal, dan saya tidak ingin berdiam terus di satu tempat,” ujar John.
Mungkin itu pula yang membuatnya semakin aktif dalam menjalankan program kemanusiaannya.